ORGANISASI DAN ADMINISTRASI BIMBINGAN DAN KONSELING



ORGANISASI DAN ADMINISTRASI BIMBINGAN DAN KONSELING
Review Jurnal
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling (BK)

Dosen Pengampu : Achmad Zayadi, M.Pd

Disusun Oleh :

Fuji Krisdayanti
Atiqoh
Siti Muamiroh

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL HIKMAH JAKARTA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
TAHUN 2018



REVIEW JURNAL 1
A.      Judul
       ADMINISTRASI BISNIS DAN MANAJEMEN                                      (Studi Deskriptif Kualitatif Tahapan Komunikasi Terapeutik dalam Pemulihan Trauma Korban Kekerasan Terhadap Istri di Rifka Annisa Women’s Crisis Center Yogyakarta)
(Penulis jurnal ini adalah Hermawan Budiyanto Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pandanaran Semarang )
B. Fokus Masalah
Studi administrasi bisnis bukan merupakan suatu bidang yang baru, melainkan telah dikenal sejak lama; dahulu barangkali masih dinamakan administrasi niaga. Akan tetapi, posisi ilmu administrasi bisnis dewasa ini kerap menjadi rancu, seolah-olah terjadi over-lapping dengan ilmu manajamen. Inilah tema yang ingin dikupas dalam tulisan singkat ini. Ini penting untuk dipahami, agar kita dapat melihat dengan lebih jelas dimana sebenarnya posisi administrasi bisnis itu sendiri, dan dengan demikian dapat mendefinisikan domain atau wilayah kajian yang sebenarnya dari disiplin ilmu ini. Selain itu, secara praktis, ini berimplikasi kepada perumusan gagasangagasan yang lebih tajam dan inovatif, dimana administrasi bisnis perlu mengembangkan pemikiran yang sesuai dengan bidang kajiannya, yakni memberikan kerangka ilmiah kepada aktivitas bisnis yang berkembang di masyarakat.
C. Tujuan Penelitian
      Penelitian ini bertujuan untuk menemukan komunikasi terapeutik terjadi pada konseling karena pada konseling terjadi komunikasi yang bertujuan untuk menghilangkan trauma yang dirasakan oleh klien.

D. Teori yang digunakan
Administrasi sebagai ilmu pengetahuan (science) baru berkembang sejak akhir abad yang lalu (abad XIX), tetapi adminitrasi sebagai suatu seni (art) atau administrasi dalam praktek, timbul bersamaan dengan timbulnya peradaban manusia. Sebagai ilmu pengetahuan, administrasi merupakan suatu fenomena masyarakat yang baru, karena baru timbul sebagai suatu cabang dari i1mu-ilmu Sosial, termasuk perkembangannya di Indonesia. Sekalipun administrasi sebagai ilmu pengetahuan baru berkembang di Indonesia, dengan membawa prinsip-prinsip yang universal, akan tetapi dalam prakteknya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi Indonesia dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempunyai pengaruh (impact) terhadap perkembangan ilmu administrasi sebagai suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri.
Pengembangan di bidang administrasi dalam rangka peningkatan kemampuan administratif (administrative capability), bukan saja diperuntukkan dalam lingkungan pemerintahan saja, tetapi juga bagi organisasi-organisasi swasta, terutama dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional.
Administrasi sebagai ilmu pengetahuan termasuk kelompok "applied sciences", karena manfaatnya hanya ada apabila prinsip-prinsip, rumus-rumus dan dalil-dalilnya diterapkan untuk meningkatkan mutu berbagai kehidupan bangsa dan negara. Sedangkan adaministrasi dalam praktek atau sebagai suatu seni pada jaman modern ini merupakan proses kegiatan yang perlu dikembangkan secara terus menerus, agar administrasi sebagai suatu sarana untuk mencapai tujuan benar-benar dapat berperan seperti yang diharapkan. Siagian (1989) mengungkapkan Administrasi sebagai proses kerja sama bukan merupakan hal yang baru karena ia timbul bersama-sama dengan timbulnya peradaban manusia. Tegasnya, administrasi sebagai seni merupakan social phenomenon.

E. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu jenis penelitian studi deskriptif yang termasuk metode penelitian kualitatif (Qualitative Research). Metode penelitian menggunakan riset lapangan (field research) dengan metode wawancara mendalam (depth interview) dan observasi (model partisipasi aktif) terhadap peristiwa atau perilaku untuk memperoleh data atau informasi secara langsung dengan mendatangi responden yang berada di lokasi penelitian.

REVIEW JURNAL 2
A. Judul
MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING TANPA ALOKASI JAM PEMBELAJARAN DI SMAN 3 SEMARANG
 (Jurnal ini ditulis oleh Ulvina Rachmawati Eko Nusantoro, Kusnarto Kurniawan, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia)
B. Fokus Masalah
       SMAN 3 Semarang merupakan salah satu sekolah terbaik di Semarang dan menerapkan kebijakan akan ketidakadaan jam untuk kegiatan BK, namun siswanya mengembangkan potensinya secara optimal yang ditunjukkan dengan prestasi siswa dari berbagai bidang dan ajang. Padahal beberapa sekolah dengan kebijakan yang sama perkembangan siswanya kurang optimal, hal ini menunjukkan bahwa BK di SMAN 3 Semarang mempunyai manajemen BK yang baik. Manajemen BK dikatakan baik apabila melakukan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi BK. Perencanaan merupakan langkah awal dari manajemen, Sugiyo (2012) menyatakan kegiatan perencanaan BK meliputi (a) analisis kebutuhan siswa, (b) penentuan tujuan, (c) analisis kondisi dan situasi sekolah, (d) penentuan jenis kegiatan, (e) penentuan teknik dan strategi kegiatan, (f) penentuan personel, (g) perkiraan biaya dan fasilitas yang digunakan, (h) mengantisipasi hambatan dalam pelaksanaan, dan (i) waktu dan tempat kegiatan.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang manajemen BK tanpa alokasi jam pembelajaran di SMAN 3 Semarang. Penelitian ini bersifat kualitatif, responden penelitian adalah stakeholder dan teknik pengumpulan data adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model analisis Miles dan Hubberman (1992). Hasil penelitian menunjukkan SMAN 3 mempunyai perencanaan cukup baik, pengorganisasian cukup baik, pelaksanaan kurang baik dan evaluasi cukup baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah manajemen BK tanpa alokasi jam pembelajaran di SMAN 3 Semarang kurang baik, prosesnya sama dengan manajemen BK pada umumnya dan idealnya ada alokasi waktu untuk BK agar berjalan efektif.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                     
D. Teori yang digunakan
PERENCANAAN
Perencanaan merupakan kegiatan awal dalam   manajemen   BK   tanpa   alokasi   jam pembelajaran  dan  kegiatan  perencanaan  ini dimulai  dari  analisis  kebutuhan  siswa  yang dilakukan   dengan   instrumentasi   BK   dan mencari  informasi  dari  personel  sekolah  yang lain.  Kegiatan  instrumentasi  BK  ini  ditulis dalam   program   tahunan   sampai   program mingguan, akan tetapi terdapat kesenjangan isi antara program bulanan dan program mingguan
Padahal program mingguan merupakan penjabaran    dari    program    bulanan    dan selanjutnya.           Kegiatan instrumentasi            BK dilakukan saat jam kosong dan kegiatan tersebut tidak  selalu  diberikan  pada  awal  tahun.  Dan dalam  menunjang  data  yang  diperoleh  dalam instrumentasi,   konselor   mencari   data   dari informasi  yang  didapat  dari  personel  sekolah yang lain terutama wali kelas. Selain melakukan need assesment, konselor juga perlu  melakukan  analisis  situasi dan kondisi sekolah agar program BK yang akan direncakan benar-benar dapat dilakukan dengan
optimal.  Adanya  kebijakan  tidak  ada  alokasi waktu di dalam jam pembelajaran untuk BK di SMAN  3  Semarang  tetapi  adanya  kebijakan akan adanya hari pengembangan diri merupakan  salah  satu  kondisi  yang  perlu dicermati konselor dalam melakukan perencanaan. Karena ketepatan konselor dalam menganalisis  kebutuhan  siswa  dan  kondisi sekolah   akan   membantu   konselor   dalam membuat  tujuan  BK  yang  sesuai dengan  visi, misi  dan   tujuan   sekolah   yang   sejatinya mengarah   pada   tujuan   pendidikan   yaitu pengembangan   diri siswa secara optimal sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
      Untuk mencapai tujuan tersebut, konselor perlu menyusun  program  BK  yang  sesuai  dengan situasi sekolah dan kebutuhan siswa.           Hasil penelitian  menunjukkan           adanya keprioritasan   dalam program BK dimana program banyak ditujukan pada kelas XII dan kelas X, hal ini tentunya menunjukan adanya ketidakmerataan dalam pemberian layanan BK kepada siswa dan tidak sesuai dengan prinsip BK dimana layanan BK diberikan kepada siapa saja tanpa memandang ras, warna kulit, etnis, jenis kelamin, tingkatan dan sebagainya. Adanya keprioritasan dalam program BK dan
ketidakadaan jam BK ini tentunya mempengaruhi penetapan jenis, teknik, dan strategi kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan jenis layanan yang diberikan lebih mengarah pada bidang karir dan bidang belajar siswa dank arena tidak ada alokasi jam di dalam pembelajaran teknik yang digunakan cenderung secara kelompok dan individual. Dengan demikian, BK yang diberikan kepada siswa tidak meliputi semua bidang seperti yang dinyatakan dalam Permendiknas Nomor 22 tahun 2006 yaitu pelayanan BK berkenaan dengan masalah pribadi, sosial, belajar, dan karir siswa.

PENGORGANISASIAN
Proses pengorganisasian dalam manajemen BK tanpa alokasi jam pembelajaran di SMAN 3 Semarang dimulai dari pembagian tugas yang sesuai dengan kemampuannya.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti, pembagian tugas di SMAN 3 Semarang dilakukan sebelum konselor melakukan perencanaan karena pembagian tugas antar konselor akan menjadi acuan dari pembagian sasaran untuk konselor sehingga memudahkan konselor dalam menjalankan tugasnya dalam organisasi BK dan memberikan layanan kepada sasarannya. Pembagian tugas ini disesuaikan dengan kemampuan konselor yang ada di SMAN 3 Semarang dan ditunjukan dengan adanya struktur organisasi BK yang terdiri dari koordinator, sekretaris, bendahara dan beberapa seksi-seksi. Hal tersebut sesuai dengan prinsip pengorganisasian yaitu ”the right man in the right place” sehingga tidak terjadi tumpang tindih wewenang didalam organisasi BK.




REVIEW JURNAL 3
A. Judul
       IMPLEMENTASI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PROSES PERKEMBANGAN PERILAKU SOSIAL
(Jurnal ini disusun oleh Masdudi Jurnal Edueksos Vol I No 1, Januari-Juni 2012)
B. Fokus Masalah
Terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan terhadap perilaku sosial akhir-akhir ini yang mencuat sebagai perilaku negatif dikalangan remaja, masih banyak tindakan– tindakan amoral yang dilakukan para pelajar, masih banyak para orang tua yang resah akan pergaulan anak–anaknya dan masih sering dilakukan tindakan–tindakan nondisipliner siswa-siswa terhadap peraturan sekolah. Faktor yang sangat berpengaruh terhadap tindakan–tindakan amoral yang dilakukan para pelajar adalah penghayatan akan ajaran–ajaran agama yang rendah. Banyak para remaja yang menjauhi ajaran–ajaran agama dan hal ini disebabkan minimnya pendidikan agama yang diberikan terutama oleh orang tua. Agama hanya dikenal melalui pelajaran di sekolah saja dan tidak ada penekanan untuk melaksanakan atau mengimplementasikan ajaran–ajaran agama sehingga para pelajar tidak punya pegangan hidup dan mudah terbawa arus modernisasi. Keberadaan layanan bimbingan dan konseling yang memberikan penekanan pada faktor agama dalam sistem pendidikan sangatlah menunjang kegiatan pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan. Layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan bertujuan agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimal menjadi pribadi yang utuh dan mandiri.
C. Tujuan Penelitian
      Sebagaimana tujuan penelitian pengembangan yaitu untuk membuat kontribusi praktis dan ilmiah. Tujuan penelitian dan pengembangan utamanya bukan untuk menguji teori, ketika diterapkan pada praktek, namun lebih pada prediksi peristiwa yang baik. Keterkaitan antara teori dan praktek dalam pengembangan lebih kompleks dan dinamis. Hasil yang telah diperoleh dari penelitian ini adalah alat ukur kompetensi kepribadian konselor yang telah dijudgement oleh para ahli.
D. Teori yang digunakan
Sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran, guru pada dasarnya mempunyai peran sebagai pembimbing. Selain tugas utama mengajar, guru juga mempunyai fungsi dalam melaksanakan program bimbingan di kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Bahkan Muro dan Kottman, yang dikutip Achmad Juntika Nurihsan (2002:49) menempatkan posisi guru sebagai unsur yang sangat kritis dalam implementasi program bimbingan perkembangan: ―Without teacher imvolvement, developmental guidance is simply one more good, but unworkable, concept”. Guru merupakan gelandang terdepan dalam mengidentifikasi kebutuhan siswa, penasehat utama bagi siswa, dan perekayasa nuansa belajar yang mempribadi. Guru yang memonitor siswa dalam belajar, dan bekerja sama dengan orangtua untuk keberhasilan siswa.
Diantara Tanggungjawab guru menurut Oemar Hamalik (2004: 127) adalah (1) Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). Memompakan pengetahuan kepada murid kiranya bukan pekerjaan yang sulit. Tetapi membina siswa agar menjadi manusia berwatak (berkarakter) sudah pasti bukan pekerjaan yang mudah. Mengembangkan watak dan kepribadiannya, sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap, cita-cita, berpikir dan berbuat, berani dan bertanggungjawab, ramah dan mau bekerja sama, bertindak atas dasar nilai-nilai moral yang tinggi, semuanya menjadi tanggungjawab guru. (2) Memberikan bimbingan kepada murid. Bimbingan kepada murid agar mereka mampu mengenal dirinya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mampu menghadapi kenyataan dan memiliki stamina emosional yang baik, sangat diperlukan.
Peran guru sebagai guru pembimbing, sesungguhnya akan tumbuh subur jika guru menguasai rumpun model mengajar. Rumpun mengajar terdiri atas model mengajar yang berorientasi kepada perkembangan diri siswa. Penekanannya lebih diutamakan kepada proses yang lebih membantu individu dalam mengorganisasikan realita yang unik, dan lebih banyak memperhatikan emosional siswa.

REVIEW JURNAL 4
A. Judul
KINERJA KEPALA SEKOLAH
DALAM KEGIATAN BIMBINGAN DAN KONSELING
 (Abu Bakar M.Luddin.Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara, Jl. Willem Iskandar Pasar V Medan Estate e-mail: drluddin@yahoo.co.id)

B. Fokus Masalah
Kinerja Kepala Sekolah dalam Kegiatan Bimbingan dan Konseling. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kinerja kepala sekolah dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling. Penelitian dilaksanakan di SMU Negeri 2 Kota Binjai, dengan memergunakan rancangan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, koordinator bimbingan dan konseling, dan guru pembimbing. Data di-kumpulkan dengan observasi, wawancara mendalam, dan kajian dokumen, dan selanjutnya dianalisis sete-lah melalui proses triangulasi antarsubjek dan informasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kinerja kepala sekolah terkait dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling masih belum sepenuhnya sebagaimana yang diharapkan. Kepala sekolah perlu meningkatkan kinerjanya dalam menjalankan fungsi koordinasi dan kepengawasan untuk mencapai kegiatan bimbingan dan konseling yang efektif.
C. Tujuan Penelitian
Mengetahui bahwa keterampilan empati bagi konselor merupakan seni yang dapat meningkatkan efektifitas pelayanan konseling yang diberikan. BK.
D. Teori yang digunakan
Hasil penelitian mengungkap bahwa pelaksanaan koordinasi bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh kepala sekolah hanya pada awal tahun ajaran baru dan awal semester, dilakukan secara bersama-sama dengan mengumpulkan seluruh guru mata pelajaran, guru pembimbing, staf administrasi, dan pegawai sekolah. Dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan bertugas sebagai koordinator bimbingan dan konseling. Koordinasi yang dilakukan hanya bersifat umum, dan belum mengarah kepada permasalahan teknis pelaksanaan secara khusus seperti penyusunan perencanaan dan program. Lebih lanjut, sebagai konsekuensi dari keterbatasan alokasi anggaran untuk kegiatan bimbingan dan konseling, beberapa instrumen pendukung belum terpenuhi. Instrumen tersebut meliputi perangkat pengumpul data yang belum tersedia secara memadai, yang ada hanya angket sederhana, selain itu juga masih belum tersedianya perlengkapan teknis opera-sional. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah belum melakukan upaya optimal dalam penyusunan rencana dan program, maupun upaya untuk melenkapi peralatan teknis yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan bimbingan dan konseling.

REVIEW JURNAL 5
A. Judul
KETERSEDIAAN SARANA DAN PRASARANA BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH MENENGAH DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
(Caraka Putra Bhakti, Bimbingan dan Konseling, Universitas Ahmad Dahlan      E-mail : caraka.pb@bk.uad.ac.id)

B. Fokus Masalah
Beberapa teori konseling yang berbasis postmodern telah berkembang, salah satunya adalah Solution Focused Brief Counseling (SFBT). Apakah perkembangan ini dapat menunjang keefektifan pelaksanaan program bimbingan dan konseling? Sebagai pendekatan yang baru, berdasarkan penelitian terkendali dan dapat dipercaya, apakah benar Konseling Singkat Berfokus Solusi (SFBT) teruji efektif untuk mengatasi masalah dan/atau mencapai tujuan konseling?

C. Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan ketersediaan sarana dan prasarana bimbingan dan konseling di sekolah tingkat SMP,SMA,SMK baik negeri atau swasta. Salah satu keberhasilan layanan bimbingan dan konseling, ditunjang dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai.       

D. Teori yang digunakan
     Penelitian (Putranti 2015) menunjukkan baru 50% sekolah yang memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang memadai sesuai dalam standar minimal ruang bimbingan dan konseling di Permendikbud No. 111 Tahun 2014. Menurut (Supriatna 2014): “Fasilitas yang diharapkan tersedia di sekolah ialah ruangan tempat bimbingan dan konseling yang khusus dan teratur, serta perlengkapan lain yang memungkinkan tercapainya proses layanan bimbingan dan konseling yang bermutu”.
Selanjutnya, (Suherman 2007) menegaskan untuk tercapainya program perencanaan BK yang efektif dan efisien, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu: analisis kebutuhan siswa, penentuan tujuan BK, analisis situasi sekolah, penentuan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, penetapan metode pelaksanaan kegiatan, penetapan personel kegiatan, persiapan fasilitas dan biaya kegiatan, dan perkiraan tentang hambatan kegiatan dan antisipasinya. Amanat Permendikbud No 111 Tahun 2014 penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan layanan dan membantu tercapainya tujuan pendidikan nasional memerlukan sarana, prasarana, dan pembiayanan yang memadai.
Salah satu kompetensi konseliu adalah melaksanakan layanan konseling individu. Menurut (Kemendikbud 2016) konseling individual merupakan proses interaktif yang dicirikan oleh hubungan yang unik antara guru bimbingan dan konseling atau konselor dan peserta didik/konseli yang mengarah pada perubahan perilaku, konstruksi pribadi, kemampuan mengatasi situasi hidup dan keterampilan membuat keputusan. Konseling individual diberikan baik kepada peserta didik/konseli yang datang sendiri atau diundang. Peserta didik/konseli diundang oleh guru bimbingan dan konseling atau konselor berdasarkan hasil asesmen, referal, dan observasi.
Ketersediaan ruang konseling berfungsi melaksanakan layanan konseling individu secara nyaman dan rahasia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 sekolah telah memiliki ruang konseling indivdu dan 7 sekolah belum tersedia ruang khusus untuk konseling individu.

Ruang konseling perorangan (ruang konsultasi), berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan wawancara konseling atau pertemuan perorangan.
Ruangan ini hendaknya dilengkapi dengan meja rendah atau semacam rak khusus untuk menaruh buku-buku, tas, dan map pengunjung serta filling cabinet untuk menyimpan data-data siswa.

Ruang Bimbingan dan Konseling Kelompok
Ruang bimbingan dan konseling kelompok berfungsi untuk melaksanakan layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok serta layanan layanan yang dalam format kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 sekolah memiliki ruang bimbingan dan konseling kelompok dan 9 sekolah belum tersedia ruang khusus untuk bimbingan dan konseling kelompok.

Ruang bimbingan dan konseling kelompok, yang berfungsi sebagai tempat diskusi. Ruangan ini hendaknya dilengkapi dengan meja, kursi, whiteboard dan alat-alat lainnya sesuai dengan kebutuhan.





Aspek
Jurnal 1
Jurnal 2
Jurnal 3
Jurnal 4
Jurnal 5
Pemahaman dasar terkait administrasi
-
-
-
-
Perencanaan program dan pengaturan waktu BK
-
-
-
-
Pola-pola orga nisasi
-
-

-
-
Koordinator bimbingan
-
-
-
-
Administrasi bimbingan dan konseling
-
-
-
-
-
Ruang bimbingan dan konnseling
-
-
-
-
Implementasi tugas guru dalam bimbingan konseling
-
-
-
-












Spesifikasi :
Aspek
ORGANISASI DAN ADMINISTRASI BIMBINGAN DAN KONSELING
Jurnal 1
Secara garis besar administrasi apabila kita lihat dalam prakteknya sebagai suatu sarana untuk mencapai tujuan yang benar-benar dapat berperan seperti yang diharapkan. Pada jaman modern ini administrasi merupakan proses kegiatan yang perlu dikembangkan secara terus menerus.  
Jurnal 2
1.      Perencanaan merupakan kegiatan awal dalam manajemen BK pembelajaran dan kegiatan perencanaan ini dimulai dari analisis kebutuhan siswa yang dilakukan dengan instrument BK dan mencari informasi dari personil sekolah yang lainnya.
Jurnal 3
Sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran, guru pada dasarnya mempunyai peran sebagai pembimbing. Selain tugas utama mengajar, guru juga mempunyai fungsi dalam melaksanakan program bimbingan di kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Jurnal 4
Dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan bertugas sebagai koordinator bimbingan dan konseling. Koordinasi yang dilakukan hanya bersifat umum, dan belum mengarah kepada permasalahan teknis pelaksanaan secara khusus seperti penyusunan perencanaan dan program.
Jurnal 5
Ruang bimbingan dan konseling kelompok berfungsi untuk melaksanakan layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok serta layanan layanan yang dalam format kelompok. Sedangkan, Ruang konseling perorangan (ruang konsultasi), berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan wawancara konseling atau pertemuan perorangan.




Kesimpulan

Berdasarkan review yang telah disusun dan berhubungan dengan pembahasan utama mengenai Organisasi dan Administrasi Bimbingan dan Konseling, dalam pemahaman dasar terkait administrasi. Yaitu, adaministrasi dalam praktek atau sebagai suatu seni pada jaman modern ini merupakan proses kegiatan yang perlu dikembangkan secara terus menerus.
Dalam perencanaan program dan pengaturan BK, perancanaan merupakan kegiatan awal dalam manajemen pembelajaran dan kegiatan perencanaan ini dimulai dari analisis kebutuhan siswa yang dilakukan dengan instrument BK mencari informasi dari personil sekolah yang lainnya.
 Dalam implementasi tugas guru dalam BK, Sebagai guru yang mengajarkan mata pelajaran, guru pada dasarnya mempunyai peran sebagai pembimbing. Selain tugas utama mengajar, guru juga mempunyai fungsi dalam melaksanakan program bimbingan di kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Pelaksanaan koordinasi bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh kepala sekolah hanya pada awal tahun ajaran baru dan awal semester, dilakukan secara bersama-sama dengan mengumpulkan seluruh guru mata pelajaran, guru pembimbing, staf administrasi, dan pegawai sekolah.
Ruang bimbingan dan konseling kelompok berfungsi untuk melaksanakan layanan bimbingan kelompok, konseling kelompok serta layanan layanan yang dalam format kelompok. Sedangkan, Ruang konseling perorangan (ruang konsultasi), berfungsi sebagai tempat untuk mengadakan wawancara konseling atau pertemuan perorangan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JENIS LAYANAN BIMBINGAN KONSELING

Review jurnal BK "strategi pengendalian diri dalam BK

KODE ETIK BK DI INDONESIA